Kitab Makna Pesantren

Kitab Makna Pesantren

Oleh: Ali Muttaqin Zahry


Ada pendapat, Sunan Ampel yang menggagas dasar-dasar kitab "Makna ala Pesantren". Dari pesantren Sunan Ampel (Surabaya) inilah lahir para ulama Walisongo. (Ada pendapat juga, Walisongo bukanlah wali yang berjumlah sembilan, tapi sebuah sistem "pemerintahan bayangan" di Jawadwipa/Nusantara. Menurut saya, sistem tersebut pengembangan dari tiga sistem yakni: sistem tho'am/ekonomi, sistem kalam/pendidikan, dan sistem qiyam/kebudayaan). Maka jangan heran jika Indonesia mendapat sebutan negara autopilot, yakni negara yang tanpa pemimpin pemerintahanan pun akan tetap berjalan. Sejelek apapun pilot/presiden Indonesia, kehidupan bernegara akan terus berjalan sendiri/otomatis).

Ada juga opini, penyempurna kitab makna pesantren adalah KH Saleh Darat (Semarang, 1820-18 Desember 1903) --beliau gurunya RA Kartini.

Misalkan saja, sistem makna ala pesantren ini bukan karya Sunan Ampel, mengapa teknik makna ini tidak hanya untuk bahasa Jawa, tapi digunakan juga meluas untuk bahasa Madura, Sunda, dan Cirebon?

Kalau abad akhir ini, Sunan Ampel barangkali mirip dengan Kyai Kholil Bangkalan (Madura) yang melahirkan para Kyai di pesantren Jawa/Indonesia. Bahkan Presiden Pertama RI, Ir.Soekarno, adalah murid Kyai Kholil. (Sehingga kalau boleh mengklaim: peradaban Indonesia berawal dari peradaban pesantren).

"Seorang Nabi diutus sesuai dengan bahasa kaumnya." Sedangkan ulama adalah pewaris para nabi. Maka Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di Jawadwipa dapat dipastikan dengan "bahasa Jawa" pula.

Teknik memaknai kitab kuning dari bahasa Arab ke "bahasa Jawa" ini ternyata sebagai cara terbaik dan efektif untuk belajar bahasa Arab dengan nahwu-shorof (tatabahasa/grammar) yang benar-benar sempurna. Orang Arab sebagai "native speaker" pun harus mengaku kalah oleh teknik ini.

Kok bisa, standarnya apa? Standar tatabahasa Arab yang sempurna mengacu pada tatabahasa Al-Quran dan Hadits: Manusia paling fasih adalah Nabi Muhammad Saw. Sedangkan bapak bahasa Arab adalah Sayyidina Ali karomallahu wajhah, dengan Najhul Balaghoh-nya.

Wajar jika dari bumi Jawadwipa banyak lahir mushonif (penulis) kitab kuning sekaliber dunia. Misalnya Syaikh Ihsan Jampes Al-Kediri Al-Jawi, yang mendapat julukan Imam Ghozali Kecil, menulis kitab Sirojut Tholibin. Padahal, kitab tersebut ditulis dengan bahasa Arab, dan bahasa keseharian penulisnya adalah bahasa Jawa. Al-Jawi adalah nama/sebutan yang biasa digunakan oleh ulama dari Jawadwipa (Asia Tenggara, Nusantara, Indonesia).

Kitab Makna ala Pesantren "pertama kali dicetak massal" oleh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, asuhan K.H. Achmad Yasin Asmuni (lantaran ini, beliau mendapat gelar Profesor dari Chicago - Amerika Serikat). Maka kitab makna pesantren dikenal dengan sebutan "Kitab Makna Petuk".

Seiring waktu, banyak pihak ikut mendukung proyek pencetakan ini (misalnya dari Kwagean/Pare-Kediri, Demak, dan Bojonegoro), maka penyebutannya sedikit bergeser menjadi "Kitab Makna ala Pesantren".

Cara menghasilkan Kitab Makna Pesantren berasal dari kitab berbahasa Arab, kemudian dimaknai dengan tulisan tangan kecil-kecil, lantas di-scan/dipindai dan dicetak (biasanya dengan kertas HVS kuning). Memilih warna kertas kuning ini karena lebih jelas dan tidak melelahkan dan menyilaukan mata.

Bolpen yang digunakan memaknai kitab biasa disebut "pen makna". Dahulu banyak yang memakai "pen tutul dan tinta batangan/tinta bak dari Cina" yang dipadukan dengan "gagang pen" dan "serat pisang - harus serat pisang, bukan kapas misalnya" serta "wadah kuningan - harus kuningan agar tidak bau bacin", karena harganya stabil -murah- pengencernya air teh kental, tapi tidak luntur oleh cuaca lebih dari sepuluh tahun.

-- Waktu kecil di Ngawi, saya sering membantu orangtua mencari serat pisang untuk dijual. Saya sangat senang memegang pisau panjang dan lebar mirip Kapitan Pattimura. Pisau yang biasa untuk menyembelih sapi itu saya tebaskan ke pohon pisang. --

Sekarang pun masih masih banyak pesantren menggunakan tinta cina ini, misalnya di Pondok Ploso (Kediri) masih mewajibkan pemakaian tinta cina. Kemudian dipermudah adanya "bolpen para arsitek" semacam Rotring (didirikan di Hamburg, Jerman 1928). Karena harganya sangat mahal, banyak santri beralih ke bolpen Pilot Hi-Tec-C ukuran biasanya 0.3 (buatan Jepang). Sedangkan untuk pemula biasanya memakai "duplikasi" yang lebih murah lagi misalnya Hi-Grade, Hi-Touch, Kenko Hi-Tec-H, dan lain-lain.

Sudah ada usaha dari pengusaha di Ngunut-Tulungagung untuk menduplikasi pen tutul dan tinta bak dari Cina, namun gagal kualitas. Ramuan kesederhanaan pen dan tinta cina masih menjadi rahasia keluarga turun-temurun.

Sebutan "Kitab Makna Pesantren" di pasaran berbeda dengan "kitab makna Jawa/terjemah Jawa". Kitab terjemah dalam bahasa Jawa biasa disebut "kitab makna jenggot" atau "jembrok" atau "brewok" karena dibawah tulisan Arab diberi "arti per kata" menggantung miring dari kanan-atas ke bawah-kiri sehingga mirip jenggot. Kitab terjemah Jawa biasanya dicetak dengan kertas CD/buram.

Kitab terjemah jawa/jembrok, lain pula dengan "kitab bahasa Jawa". Kalau kitab bahasa Jawa, bukanlah terjemahan, tapi asli ditulis dalam bahasa Jawa. Misalnya: kitab Fasholatan (KHR Asnawi Kudus).

Kitab makna pesantren berupa singkatan dari kitab makna jembrok/jenggot, barangkali cara menuliskan makna pesantren mirip "menulis cepat-stenografi huruf pegon". (Pegon adalah aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa). Misalnya: di kitab jenggot ditulis "utawi" dengan huruf pegon hamzah-ta'-wawu-ya', maka di makna pesantren cukup menulis "huruf mim" di atas tulisan Arab, cara membacanya "utawi", maksudnya, kata tersebut posisinya sebagai Mubtada' (subjek). Jika di kitab jenggot ditulis "iku" hamzah-ya'-kaf-wawu, maka di makna pesantren cukup menulis "huruf kho'" di atas tulisan Arab, maksudnya kata tersebut kedudukannya sebagai Khobar (predikat).

"Arti per Kata" ini sepertinya bisa maksimal hanya dengan "bahasa Jawa" saja. Mengapa? Bahasa Jawa sudah mampu mengadaptasi kekayaan khazanah bahasa Arab, sementara bahasa Indonesia (yang berinduk dari bahasa Melayu) masih terlalu miskin kosakata. Di lain kesempatan nanti kita liput berkaitan dengan peradaban Majapahit dan Demak. Setahu saya, "kitab makna pesantren" di Jawadwipa baru sebatas "bahasa Jawa (Timur/Tengah)". Meskipun teknik "kitab makna ala pesantren" bisa digunakan untuk bahasa Madura, Sunda, dan Cirebon, namun masih sebatas terjemahan (jembrok/jenggot), "belum ada makna ala pesantren yang dicetak massal". Selebihnya, saya tidak tahu sama sekali.

Kelebihan paling utama Kitab Makna Pesantren/Makna Petuk adalah sekadar untuk PERBANDINGAN saja, bukan untuk rujukan utama, karena hal ini akan terbiasa memanjakan otak santri, sehingga menjadi malas berpikir. Ibaratnya seperti terbiasa memakai kalkulator, keterampilan hafalan perkalian di kepala pun menjadi tumpul.

***

Misalnya Anda seorang "kaum nasionalis Indonesia" dan sudah punya bekal "cinta kepada Kanjeng Nabi atau ulama", dan ingin belajar kitab kuning di pusat peradaban (Jawa Timur), maka dengan sangat menyesal "Anda harus menaklukkan bahasa Jawa dahulu", dan mungkin bisa dicoba tahap berikut ini:
1. Belajar memahami kitab terjemah berbahasa Indonesia (ini tidak disarankan, karena sering terjadi manipulasi data dan distorsi/penyimpangan penerjemahan kitab kuning ke bahasa Indonesia oleh pihak yang tak bertanggung jawab, khususnya yang mendapat funding/donatur dari aktivis Wahabi).
2. Hafalan syi'ir/nadhom berbahasa Jawa/bahasa Arab. Karena pemahaman tidak akan sempurna kecuali dengan menghafal. Lebih baik "mencoba" menghafal Al-Quran (sebagian dari surat-surat penting atau keseluruhan sekalian). Jika bacaan Quran-nya baik, maka mudah untuk menuju kitab kuning.
3. Belajar memahami "kitab bahasa Jawa".
4. Belajar memahami "kitab jenggot/jembrok, terjemah Jawa".
5. Belajar memahami "kitab makna ala pesantren/makna petuk".
6. Belajar memahami "kitab kuning" berbahasa Arab (kitab gundul, tanpa harokat).
7. Belajar memahami Al-Quran.

Sehingga tidak benar kalau ada tuduhan bahwa belajar di pesantren itu hanya kitab kuning saja dengan mengabaikan Al-Quran. Justru ini malah sebagai prasyarat utama, jika Al-Qurannya bagus, maka akan mudah mempelajari kitab kuning. Untuk belajar membaca Al-Fatihah saja, bisa butuh waktu berbulan-bulan di pesantren.

Ibarat kita ini bayi, maka minum susu dulu, lalu setelah tambah besar, makan bubur, setelah tambah besar lagi makan nasi tim, setelah lebih besar lagi dan punya gigi kuat, baru makan nasi biasa.

Gigi untuk mencerna itu bagaikan ilmu alat. Ilmu alat paling dasar adalah nahwu shorof. Nahwu itu disebut bapak ilmu, contoh kitab dasarnya: Jurumiyah (yang dinadhomkan menjadi Imriti). Shorof itu ibu ilmu, contoh kitab dasarnya: Amtsilah Tasrif. Dari bapak dan ibu ilmu tersebut akan melahirkan anak-anak ilmu yang lain. .:. Jadi >>>  Jurumiyah + Tasrif + Kamus Salafi = Jika menguasai dengan sempurna, maka sudah bisa untuk baca kitab kuning.

Orang yang langsung belajar dari Al-Quran seperti bayi ajaib yang langsung makan nasi. Tapi jangan salah, pesantren juga meyakini adanya Ilmu Laduni, yakni mendapat ilmu tanpa belajar, syaratnya: sabar dan ikhlas.

Namun mestinya kita harus belajar. Tak ada bayi yang lahir langsung pandai. Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang harus dipelajari dahulu setelah Syahadat "ilmu cinta" adalah tentang sholat. Karena jika sholatnya baik, maka proses persidangan di akhirat nanti dianggap baik semua. Maka dahulukan belajar ucapan tartil/fasih untuk sholat yakni ada empat:
1. Takbirotul Ihrom
2. Surat Al-Fatihah
3. Tahiyyat Akhir
4. Salam
Sebaiknya, sejak dini anak-anak harus dibiasakan tartil dengan keempat bacaan sholat tersebut. Percuma saja, jika hafal seribu kitab kuning, tapi bacaan Surat Al-Fatihahnya teledor, maka runtuhlah semua ilmunya.

Jangan lupa banyak bersholawat. Dzikir Al-Quran, dzikir ilmu, dzikir tahlil, berakibat punya "efek panas", sedangkan pendinginnya adalah sholawat. Seumpama komputer atau mobil tanpa pendingin, maka siap-siaplah "njeblug, meledak!". Sholawat adalah ekspresi cinta, satu-satunya amal yang pasti diterima Allah. Wallahu a'lam.

Berikut "Kitab Makna Pesantren/Makna Petuk" terbitan Pondok Petuk/Kediri, Kwagean/Pare, dan Demak yang sudah terbit (hingga Juni 2011):
ABI JAMROH
ADABUD DUNYA
ADZKAR NAWAWI
AL-AUFAQ
AL-IQNA'
AL-QURAN
ANWARUL MASALIK
ARBAIN NAWAWI
AS'ADUR ROFIQ
ASBAH WAN-NADHOIR
ASYMAWI
AT-TIBYAN
AT-TAHLIYAH
AWAMIL \ TASHIL
BADA'UZ ZUHUR
BAHJAH WASAIL
BAJURI
BARZANJI
BIDAYATUL MUJTAHID
BIDAYATUL HIDAYAH
BUGHYAH MURTASYIDIN
BULUGHUL MAROM
BUSYRO KARIM
DAHLAN
DAIROBI
DALAILUL KHOIROT
DA'WATUT TAMMAH
DAQOQIQUL AKHBAR
DARDIR MI'ROJ
DURROTUN NASHIHIN
FATHUL JAWAD
FATHUL QORIB
FATHUL MAJID
FATHUL MUIN
FATHUL WAHAB
FAWAID KUBRO (DUPLEX)
FAWAID KUBRO (LUX)
GHOYAH AL-WUSHUL
DASUQI
HIKAM
HIKMAH TASRI'
HUSUN HAMIDIYAH
IBNU AQIL (LUX)
IBNU AQIL (KURASAN)
IDHOHUL MUBHAM
IDHOTUN NASHIHIN
IMRITI
INAROTUD DUJA
IHYA' ULUMUDDIN
IRSYADUS SARI
IRSYADUL IBAD
I'ANATUT THOLIBIN
JURUMIYAH (MUHTASHOR JIDDAN)
J. JAWAMIK
JAMI'US SHOGIR
JAWAHIRUL BUKHORI
JAWAHIRUL KALAMIYAH
JAWAHIRUL LAMA'AH
JAUHARUL MAKNUN
KAFRAWI
KAILANI
KASIFATUS SAJA
KAWAKIB AL-LUM'AH
KHOZINATUL ASROR
KIFAYATUL AKHYAR
KIFAYATUL ASHAB
KIFATUL ATQIYA'
KIFAYATUL AWAM
LATHOIFUL ISYAROH
MABADI FIQIH
MADARIJUS SU'UD
MAHALI / QULYUBI
MAJALIS SANIYAH
MAKUDI JURUMIYAH
MAQSUD
MUTAMIMAH
MUKHTARUL HADITS
LUJANUD DANI / MANAKIB
MANBAUL USHUL HIKMAH
MANBAUL HIKMAH
MAUIDHOH MU'MININ
MINAHUS SANIYAH
M. SANIYAH + QOMI'
MINHAJUL ABIDIN
MINHAJUL QOWIM
MIZAN KUBRO
MUHADZDZAB
MUWATHO' / T. HAWALIK
NASHOIHUD DINIYAH
NASHOIHUL IBAD
NIHAYATUZ ZAIN
NURUD DHOLAM
NURUL YAQIN
QOMI' THUGHYAN
QURTUBI
RIS. QUSYAIRIYAH
RIS. MUAWANAH
RIYADUL BADI'AH
RIYADUS SHOLIHIN
ROHMATUL UMMAH
SAB'ATUL KUTUB
SHOHIH BUKHORI
SHOHIH MUSLIM
SITIN MASALAH
SIRRU JALIL
SIROJUT THOLIBIN
SULAM TAUFIQ
SULAM MUNAJAT
SUNAN ABI DAWUD
SUNAN ABI MAJAH
SYAMSUL ANWAR
SYAMSUL MA'ARIF
TADHIB
TAFSIR AL-BAIDHOWI
TAFSIR AYAT HIKAM
TAFSIR IBNU ABBAS
TAFSIR JALALAIN
TAFSIR NAWAWI / MUNIR
TAFSIR YASIN
TAHRIR / T. THULAB
TAISIRUL KHOLAQ
TAJRIDUS SHORIH
TA'LIM MUTA'ALIM
TALHIS AL-ASAS
TANBIHUL GHOFILIN (KRS)
TANBIHUL GHOFILIN (LUX)
TANBIHUL MUGHTARIN
TANQIHUL QOUL
TANWIRUL QULUB
TARGHIB
TARGHIB MUSTAQIN
TARIKH TASRI'
TASYWIQUL KHOLAN
TAUSYAIH
TIBBUN NABAWI
TIJAN / QOTRUL GHOIS
UMDATUS SALIK
USFURIYAH
UQUDULIJAIN
UQUDUL JUMAN
WAROQOT
WASHOYA
...

(Maaf, masih dalam proses penulisan...)

{Lihat Bacaan}
* http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/04/20/AG/mbm.20090420.AG130066.id.html
* http://hidayatutthullab-petuk.blogspot.com
* http://nasional.kompas.com/read/2008/09/10/1555436/bahasa.indonesia.tak.sekaya.bahasa.jawa

{Lihat Ilustrasi}

Mencari Data di Blog Ini:

Memuat...

Jumlah Kunjungan Blog Ini: