2_KITAB Lokal Indonesia

Kitab Lokal Indonesia

Oleh: Ali Muttaqin Zahry



Yang saya maksud "Kitab Lokal Indonesia" adalah "kitab kuning dan anak cucunya" yang diterbitkan penerbit Indonesia. Penerbit luar negeri yang membuka cabang di Indonesia, tetap saya kelompokkan kedalam "Kitab Beirut".

Saya mengklasifikasi/mengelompokkan "Kitab Lokal Indonesia" berdasarkan kondisi di toko kitab (dalam hal ini Toko Kitab Mawarid Warujayeng-Nganjuk, tahun 2010):

1. Berdasarkan Bahasa:

1.1. Al-Quran -- saya singkat: QUR_,
Al-Quran tarjamah Indonesia, saya singkat: QUR.Tarj_

1.2. Bahasa Arab (sebagai "kitab kuning yang sesungguhnya", sebagai babon/induk, kitab Hadits masuk kesini) -- saya singkat: ^AR_

1.3. Bahasa Jawa Makna Ala Pesantren (kitab kuning diberi "Makna ala Pesantren/petuk") -- saya singkat: MAKNA_

1.4. Bahasa Jawa (tarjamah Jawa, anggap saja sebagai anak kitab kuning) -- saya singkat: JV_

1.5. Bahasa Daerah Lain (tarjamah Melayu: MAY_, Madura: MAD_, Sunda: SUN_, Cirebon, dll). -- maaf saya tidak paham bahasa ini.

1.6. Bahasa Indonesia (tarjamah Indonesia, anggap saja sebagai cucu kitab kuning) -- saya singkat: ID_

(Di pesantren, belajar Islam melalui bahasa sumbernya yakni bahasa Arab-Tulis, tidak disarankan menggunakan bahasa Indonesia-Tulis karena bahasa Indonesia belum sempurna, masih miskin kosakata, dan sering terjadi bias makna. Barangkali tugas Anda untuk menyempurnakannya secara bertahap... )

(Untuk kode bahasa lihat ISO 639.)

2. Berdasarkan Jilidan/Fisik Kitab:

2.1. Kitab Lux -- saya singkat: LUX_ (yakni kitab kuning dijilid lux, misalnya Ihya' Ulumuddin (1/4), maksudnya terdiri dari empat jilid).

2.2. Kitab Syarah (Kurasan) -- saya singkat: SY_ (yakni kitab kuning berisi penjelasan/komentar, bentuknya kurasan/lembaran, misalnya: Syarah Ta'lim Muta'alim). Ada juga berbentuk dua macam, Lux dan Kurasan, misalnya: Fathul Muin.
Kalau di dunia percetakan, kurasan disebut katern (berasal dari bahasa Belanda: yakni susunan halaman buku dalam selembar kertas besar yang dilipat, sehingga tersusun sesuai nomor halamannya. Satu katern biasanya terdiri dari 4, 8, atau 16 halaman bolak balik (kelipatan 4). Selembar kuras menjadi satu lembar film.
Untuk Kitab Beirut, tidak ada jenis kurasan, biasanya langsung jilid kawat ataupun lem.

2.3. Kitab Matan -- saya singkat AR_ karena berbahasa Arab (Kitab Matan yaitu ringkasan kitab kuning -- biasanya dihafalkan, misalnya: Matan Ta'lim Muta'alim, Matan Jurumiyah). Kadang tetap menambahkan singkatan MTN (Matan) untuk membedakan dengan SY (Syarah). Misalnya Matan Ta'lim dan Syarah Ta'lim.
Ada istilah "Renggang", yakni kitab matan dengan jarak antartulisannya lebar, sehingga cocok untuk pemula belajar memaknai dengan teknik "Makna Ala Pesantren".

Yang saya kagumi dari jenis fisik kitab matan ini, kebanyakan cara menulis khoth Arab tidak dengan komputer, tapi tulisan tangan murni, (lalu dipindai/scan), lalu dibuat film dan dicetak massal. Tulisannya bagus sekali...

2.4. Kitab Nadhoman -- saya singkat: NADHOM_ (yakni ringkasan kitab kuning yang disyairkan dengan bahar tertentu --misalnya bahar rojaz-- agar ilmu bisa mudah dan menyenangkan untuk dihafalkan, misalnya: Nadhom Alfiyah, Nadhom Imriti, Nadhom Aqidatul Awam, dll.)

(Ada kaidah: pemahaman tak sempurna tanpa hafalan. Maka belajar di pesantren tak akan lepas dari menghafal --optimasi otak kiri secara sempurna. Karena sesuatu jika tidak sempurna tidak akan maksimal manfaatnya). Dengan teknik hafalan, bisa diketahui pula bahwa para Wahabis telah memalsukan kitab kuning.

Dahulu kala, Belanda menjajah Indonesia karena ingin minum kopi dan merokok (atau istilahnya: karena rempah-rempah terbaik sedunia). Tapi ketika melihat buku karya orang-orang Indonesia juga bermutu tinggi, dijarah pula kesana.

Untungnya, teknik mempelajari kitab kuning adalah hafalan. Jadi ketika khazanah pustaka nusantara dirampok ke Leiden Belanda, tidak ada pengaruhnya terhadap peradaban keilmuan Islam di Nusantara/Indonesia. Yang dibawa ke Leiden sana meskipun bernilai mahal adalah "barang rongsokan". Ulama Islam bisa menuliskan kembali peradaban Islam dari isi kepala kedalam buku/kitab lagi. Tapi ternyata sekarang masih dikoleksi ke sana lagi... Semangat belajar para orientalis sungguh luar biasa!


3. Berdasarkan Jenis Kertas

3.1. HVS Kuning -- saya singkat: KNG atau KN -- kalau istilah Kitab Beirut: ASHFAR

3.2. HVS Putih -- saya singkat: HVS atau PTH -- kalau istilah Kitab Beirut: ABYADL

3.3. CD/Buram -- saya singkat: CD
(Dalam kitab Beirut ada istilah LAUNAN yakni cetakan berwarna. Kertas yang digunakan kitab Beirut biasa disebut "kertas impor" bentuknya ringan seperti kertas CD/buram --tapi harganya lebih mahal. Meski kitab tebal, tapi terasa enteng).

3.4. Kitab Kuning Tanpa Kertas (Digital). -- Selain bentuk software (misalnya Syamila), biasanya bentuk ekstensi PDF.

4. Berdasarkan Penerbit:

Banyak penerbit terjun dalam penerbitan kitab kuning dan "anak cucu kitab kuning". Ada penerbit kecil (minor) maupun besar (mayor). Ada yang terus eksis, ada yang sekarat lalu hak terbitnya dijual ke penerbit besar, ada juga yang musnah begitu saja, sehingga pembaca hanya bisa mendapatkan via fotokopi-an. Ada yang sudah beredar luas tapi masih bentuk manuskrip (tulisan tangan)...

Penerbit kitab kuning juga seperti bisnis lain yang harus profesional mengelolanya. Meski pangsa pasar santri begitu besar, tapi ada begitu banyak pesaing. Baik dari dalam maupun luar negeri. Satu jenis kitab yang hak ciptanya sudah tidak ada, misalnya Ta'lim Muta'alim, bisa diterbitkan oleh berbagai penerbit. Kalau tidak terampil, penerbit bisa gulung tikar. Belum lagi, ada juga ancaman pembajakan kitab.

Selain itu, pelaku bisnis kitab kuning juga harus rendah hati. Sikap superioritas (merasa paling unggul/adigang-adigung) sedikit saja, dijamin kapal bisnisnya akan bergoyang.

Berikut contoh pihak yang menerbitkan kitab kuning dan anak cucunya...

- Ahmad Nabhan (Surabaya) -- saya singkat: _AN
- Balai Buku [سعد بن ناصر بن نبهان] [Mahkota] (Surabaya) -- saya singkat: _BB
- Duta Ilmu [دارالعلم] (Surabaya) -- saya singkat: _DT
- Al-Hidayah (Surabaya) -- saya singkat: _H
- Haromain (Surabaya) -- saya singkat: _HR
- Menara Kudus (Kudus): -- saya singkat: _KDS
- Al-Miftah (Surabaya) --saya singkat: _MT
- Raja Murah (Pekalongan) -- saya singkat: _RM
- Salim Nabhan (Surabaya) --saya singkat: _SN
- Bangilan -- saya singkat: _BANGIL
- Ihsan (Surabaya) -- saya singkat: _IHSAN
- Imarotullah (Surabaya) -- saya singkat:_IMA
- Dan lain-lain


Contoh Penerbit Buku Indonesia
yang menerbitkan "Cucu Kitab Kuning",
penerjemahan ke bahasa Indonesia,
serta seputar peradaban pesantren.

-- Klasifikasi 297 atau 2x0 --

- Khalista (Surabaya)
- Penerbit LKIS (Yogyakarta)- Sinar Baru Algensindo (Bandung)
- Penerbit KUTUB Yogyakarta
- Pustaka Amani (Jakarta)



Contoh Mushonif (Penulis Kitab) Jawadwipa
- Kyai Bisri Musthofa, Rembang
- KHR. Asnawi Kudus
- Imam Nawawi Al-Bantani Al-Jawi
- Syaikh Ihsan Jampes Al-Kadiri Al-Jawi
.....

Contoh Penerjemah Kitab Kuning
- Ahmad Sunarto, Rembang (Muridnya KH Bisri Musthofa)

5. Berdasarkan Harga Kitab Kuning

5.1. Kitab paling murah adalah Al-Quran.
Barangkali karena penerbit tidak membayar royalti kepada pengarangnya: Allah.

5.2. Kitab Kuning juga sangat murah.
-- Penerbit tidak membayar hak cipta pengarangnya: Nabi Saw, Sahabat, Tabi'in, Tabi'it Tabiin... hingga para ulama salaf -- (ingat, "Hadits Qudsi": wahyu dari Allah dengan redaksi kata-kata dari Nabi Saw sendiri).

Lihat saja, bahkan, dzuriat/keturunan Syaikh Ihsan Jampes yang mengarang kitab Sirojut Tholibin
yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit Indonesia dan Luar Negeri mengaku tidak pernah mendapat royalti.

5.3. Kitab Beirut (Impor) lebih mahal daripada Kitab Lokal Indonesia. Kitab Beirut yang membuka cabang percetakan di Indonesia harganya lebih murah daripada yang murni impor.

5.4. Kitab Makna Pesantren/Petuk lebih mahal daripada Kitab Lokal Indonesia.

5.5. Kitab yang masih ada hak cipta/royaltinya harganya tetap mahal. Misalnya: AR_AN__Akhlaqul Banin.

5.6. Kitab yang dicetak kertas HVS Kuning paling mahal, setelah itu kertas HVS putih, dan termurah kertas CD/buram.

5.7. Kitab tarjamah bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit kitab kuning, harganya murah. Tapi yang diterbitkan oleh penerbit "cucu kitab kuning" harganya mahal, bahkan sering tidak disebutkan judul kitab aslinya.

5.8. Anomali.
Berbeda dengan hukum ekonomi umumnya, mahal murah sebuah kitab tidak tergantung jumlah permintaan santri, tapi tergantung harga kertas. Meski ajaran baru pesantren yaitu bulan Syawal, harga kitab tetap tak berubah. Karena banyak pesantren yang ajaran baru mengikuti pemerintah RI, maka bulan Juni/Juli permintaan kitab juga meningkat.

Bulan panen lain bagi penerbit dan toko kitab kuning yaitu bulan Romadlon. Di sekolah umum daerah Nganjuk, bulan puasa sering juga untuk mengaji kitab kuning kecil-kecilan dengan dasar kurikulum "muatan lokal" Mulok. 

Sedangkan masa paceklik biasanya saat "hujan nggreceh" di bulan Desember-Januari-Pebruari. Sama dengan paceklik-nya petani menurut pranoto mongso.

5.9. Kitab kesaktian/ilmu hikmah/sihir/perdukunan/thibb/kedokteran timur, semisal Sirrul Jalil, Abu Ma'sar Al-Falaki, Hizib-hizib, dan lain-lain, harganya mahal.

Barangkali karena pemakainya jarang. Mungkin juga karena dukun duitnya banyak. Khazanah peradaban pesantren masih melestarikan kitab sihir/perdukunan, meski hanya sebagai pelajaran ekstrakulikuler.

Dengan datangnya Islam ke Jawadwipa, ilmu kesaktian tidak dimusnahkan, tapi malah disempurnakan aqidah-nya untuk mengawal peradaban pesantren sebagai paramiliter yang murah. Misalnya, tiap mantra dimulai dengan dua kalimah syahadat. Si santri sakti harus banyak membaca sholawat agar karakter ilmu kesakten yang dimiliki menjadi sejuk.

Banyak waktu, biaya, dan tenaga digunakan untuk menuntut ilmu, tapi ketika sudah alim, jangan sampai santri mati konyol di usia muda gara-gara dibantai musuh. Zaman Nabi Saw, semua sahabat pandai pencak silat, jago gelut. Menurut Gus Mus, kekuatan nyata di Indonesia hanya NU dan Militer/TNI.

AS-AS-I (Amerika Serikat-Arab Saudi-Israel), trio kwek-kwek ini masih penasaran dengan kekuatan manusia Indonesia. Amerika Serikat (AS) takut superpower-nya tergantikan Indonesia hanya dalam hitungan puluhan tahun kedepan saja, maka beliau mengobok-obok dengan senjata pedang bermata dua bernama HAM (Hak Asasi Manusia).

Arab Saudi (AS) takut kota hasil kudeta: Makkah-Madinah diinternasionalisasi organisasi umat Islam sedunia (OKI), yang tentunya akan dipimpin umat Islam terbesar: Indonesia. Maka beliau menyebar propaganda antisihir dan antiperdukunan terhadap pesantren dengan berbalut kata syirik dan bid'ah. Andai ada boikot Indonesia, travel warning ke Makkah-Madinah untuk tidak haji/ihrom selama lima tahun saja, AS bisa menangis terkojol-kojol.

Dan ketika Makkah-Madinah diambil alih, tentu ekonomi tanah yang dijanjikan: Java-Tel Aviv terancam...

Maka setiap waktu akan selalu ada rekayasa memecah belah Indonesia agar saling bantai. Tapi santai sajalah, orang Indonesia itu sakti-sakti dan cinta damai.

He, he... Ayah saya pernah ikut pembebasan tanah Pondok Modern Gontor di Ngawi yang direbut PKI. Perang suku itu pemenangnya tentu para santri ndeso, karena memakai ilmu kebal/sihir. Ketika saya dolan-dolan ke Gontor, waduh..., santri modern sangat anti dengan ilmu kebal dan ilmu hikmah. Banyak orang mencibir ilmu kekebalan dengan tuduhan syirik atau kafir. Tapi ketika terjadi huru-hara, mereka diam-diam tanpa risih menggunakannya. Maaf.

Murahnya harga kitab itu surga belajar bagi santri. Saya berulang kali menemui, tipe santri berpenampilan ndeso, tapi ketika membeli kitab tak ada eman sama sekali, duit bral-brul... (Apalagi santri-santri Temboro-Magetan/Jaulah, wah semangat membeli kitab kuningnya ampuh...) Santri memang harus mandiri dan kaya. Banyak rumus agar santri bisa kaya (misalnya: membaca Al-Waqi'ah, tidak tidur pagi, dan lain-lain). Berbeda dengan karakter mahasiswa yang buku saja selalu pinjam perpustakaan...



{}

Mencari Data di Blog Ini:

Memuat...

Jumlah Kunjungan Blog Ini: