Syaikh Subakir dan Jin Jawa


Syaikh Subakir dan Jin Jawa
Diceritakan kembali oleh: Ali Muttaqin Zahry
{© Ali Muttaqin Zahry}



1. Dahulu kala, Pulau Jawa terkenal sangat subur loh jinawi. Pohon menghijau. Burung berkicau merdu. Air mengalir jernih. Namun, Pulau Jawa pernah mendapat sebutan Hadromaut. Berasal dari kata, “Man Ja-a Hadlorol Maut”. Siapa mendatangi Pulau Jawa, maut pasti menjemput. Kisahnya seperti Hadromaut di negeri Yaman.

Jawa masih hutan belantara. Penuh misteri. Angker. Wingit karena dihuni raksasa pemakan manusia, hewan buas, dan jin. Serta makhluk halus seperti: peri, tuyul, dedemit, kemang, banaspati, genderuwo, sundal bolong, wewe gombel, jerangkong, kuntilanak, dan masih banyak lagi hantu jenis lainnya.

{Contoh ilustrasi: Hutan angker yang ditempati jin serta makhluk halus, manusia raksasa, dan hewan buas}

***

2. Sultan Turki mendapat ilham untuk mengisi tanah Jawa dengan "manusia". Sultan memanggil patihnya,
 “Hai Patih, aku bertanya padamu apa benar Pulau Jawa itu belum ada 'manusia', masih hutan belantara?”

 “Benar Tuanku. Berita ini dari para nakhoda yang sering mengarungi Pulau Sumbawa melewati Pulau Jawa,  Tuanku.”

“Hai Patih, bawalah dua laksa kepala keluarga, lalu tempatkan di tanah Jawa agar mereka bertani dan bekalilah alat-alat pertanian.” Sang Patihnya menerima titah. Berangkat dengan perahu bersama dua puluh ribu orang.

{Contoh ilustrasi: Sang Patih diantar sang Sultan berangkat dengan kapal bersama dua puluh ribu orang}

***

3. Sampai di Pulau Jawa, dua puluh ribu orang itu akhirnya diteluh (disantet) lelembut atau makhluk halus. Jin mengejar-ngejarnya. Raksasa dan binatang buas menerkamnya. Roh jahat merasuk dan menghantuinya. Yang tersisa hanya 40 orang. Mereka meninggalkan Pulau Jawa dengan ngeri ketakutan.

{Contoh ilustrasi: Raksasa, homo erectus, dedemit, binatang buas, mengejar orang-orang yang wajahnya ketakutan}

***

4. Sampai di negeri Turki, mereka yang selamat menghadap Sultan Turki, “Kami banyak yang mati dimakan raksasa, binatang buas, dan jin.”

Sultan terheran-heran. Baginda memanggil Syaikh Subakir yang bergelar Syaikh Maulana untuk menghadap.
“Syaikh, tolong pergilah ke Pulau Jawa dan pasanglah jimat. Tempatkanlah di gunung bagian tengah. Supaya makhluk halus yang makan manusia itu pergi. Dan bawalah orang Keling agar mereka menetap tinggal di tanah Jawa dan lengkapi dengan persenjataan.”

Syaikh Subakir berlayar ke tanah Jawa melewati Hindustan (India). Setibanya di India Selatan, singgah sebentar untuk mengambil 20.000 pasang orang Keling atau Kalingga. Syaikh Subakir lalu meneruskan pelayaran ke Pulau Jawa.

{Contoh ilustrasi: Syaikh Subakir bersama rakyat Keling/India naik kapal menuju Pulau Jawa}.

***

5. Syaikh Subakir tiba di Pulau Jawa dan menuju titik tengah Pulau Jawa. Yakni Gunung Tidar di Magelang dan memasang jimat Rajah Aji Kalacakra. Kekuatan jimat itu sangat dahsyat. Dalam sekejap terjadilah goro-goro (keributan).

Alam yang tadinya cerah dan sejuk, matahari bersinar terang, damai dengan kicau burung. Tiba-tiba berubah drastis selama tiga hari tiga malam. Cuaca mendung. Angin bergerak cepat. Kilat menyambar menimbulkan hujan api. Gunung bergemuruh tiada henti.

Lelembut, setan siluman lari menyelamatkan diri. Jin, peri, banaspati, kuntilanak, jailangkung, semua hanyut dalam air karena tak kuat menahan panasnya halilintar. Makhluk halus yang masih hidup mengungsi ke lautan.

{Contoh ilustrasi: Jin dan makhluk halus disambar petir, terbawa arus ke laut.}

***

6. Setelah kejadian itu, alam kembali tenang. Udara dingin. Sunyi senyap. Gelap tanpa cahaya. Matahari tak menembus bumi seakan tak bersinar.

Danyang tanah Jawa, Semar dan Togog yang tinggal di gunung ikut bingung. “Kakang Togog, telah terjadi keributan. Hujan api. Bumi porak-poranda. Mayat bergelimpangan disambar petir. Guntur menggelegar di angkasa. Gemuruh suara gunung bergetar.” sambat Semar kepada adiknya.

“Aku tak tahu penyebabnya, Kakang.” jawab Togog.

“Utusan dari negeri Turki datang ke tanah Jawa membuat rusaknya makhluk halus. Jimatnya dipasang di Gunung Tidar. Mari kita kesana menjumpai sang resi itu. Aku akan menuntut pada resi dari Turki itu.” kata Semar.

Semar dan Togog menemui Syaikh Subakir.
“Sebagai pendeta mengapa Tuan datang kesini membuat kerusakan?”

“Kisanak, kau ini siapa?” tanya Syaikh Subakir heran melihat bentuk tubuh Togog dan Semar.

“Saya ini orang Jawa.”

“Kabarnya, tanah Jawa belum ada manusianya, masih hutan belantara.” tanya Syaikh Subakir.

“Saya orang Jawa, sudah ada sebelum tuan datang. Kami menetap di puncak gunung sudah 9.000 tahun dan berada di Gunung Tidar sudah 1001 tahun.”

Syaikh Subakir heran. “Hai kamu ini bangsa apa? Apakah kamu sungguh manusia? Umurmu panjangnya bukan main. Saya belum pernah tahu orang yang umurnya mencapai 10.000 tahun. Umurmu lebih panjang dari Nabi Adam. He, kisanak, mengakulah, kamu pasti bukan manusia!”

“Sesungguhnya saya bukan manusia tulen. Saya danyang tanah Jawa paling tua. Saya ini punya banyak julukan: Manik Maya, Sang Hyang Syist, Dahyang Teritoti, Rekanaya, Sang Hyang Ening. Sayalah yang disebut Sang Hyang Semar. Saya kesini sudah lama sekali dari ibu Hawa. Dulu Ibu Hawa melahirkan benihnya dan diambil anak serta dirawat Sang Idajil. Benih itu tak berbentuk dan dicipta bentuknya sedemikian rupa dan dicampur dengan benihnya. Maka jadilah hamba ini. Semua dahyang dan lelembut itu keturunan saya.” Sang Hyang Semar bercerita.

“Mengapa tuan sebagai pendeta membuat kerusakan dan membunuh anak cucu hamba? Mereka semua hanyut di sungai sampai ke lautan, terkapar terkena jimat. Sisanya mengungsi ke lautan.”

“He kisanak, aku ini diutus Sultan Turki untuk mengisi manusia di pulau Jawa, supaya berladang, membuka hutan belantara. Yang kutempatkan dari negeri Turki sebanyak 2.000 orang dan orang Keling hingga genap 20.000 pasang orang. Ini sudah kehendak Tuhan. Kalian tidak bisa menghalanginya.”

“Syukurlah, jika itu titah Sultan Turki. Karena sebenarnya, Sultan Turki juga turunan orang Jawa. Karena sultannya juga menikah dengan bangsa jin. Semua ini memang takdir Pulau Jawa.”

{Contoh ilustrasi: Syaikh Subakir bersama Togog dan Semar.}

***

7. Akhirnya Syaikh Subakir menceritakan kepada Togog dan Semar tentang Kehendak Tuhan Yang Mahaagung terhadap takdir Pulau Jawa. “Ingatlah masa depan pendatang itu. Tentang raja-raja yang memimpin tanah Jawa, hingga habis umur tanah Jawa. Ketika gunung-gunung meletus hancur lebur berterbangan. Ketika api berkobar menjilat-jilat. Suara gemuruh gunung sangat menakutkan. Tiada lagi tempat berlindung.

Gunung Tidar meletus mengeluarkan air bah dan lahar. Hancur dan lenyaplah pulau Jawa dari permukaan bumi. Tenggelam oleh air dan rata dengan lautan. Ki Semar dan Ki Togog, begitulah takdir yang kutahu tentang tanah Jawa ini. Aku akan pulang ke Turki dahulu. Manusia sudah banyak di tanah Jawa ini. Rawatlah setelah kepergianku. Ingatlah selalu pesanku.”

Semar dan Togog pasrah saja dengan apa yang dilakukan Syaikh Subakir. Kemudian Syaikh Subakir pulang ke negeri Turki. Jadilah Semar dan Togog membimbing para raja Jawa.

{Contoh ilustrasi: Hancurnya Pulau Jawa.}

***


TAMAT

Keterangan:
* Nama-nama hantu di Jawa = demit, lelembut, kuntilanak, banaspati, dan lainnya.
* Jimat = azimat, barang (tulisan) yg dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkal penyakit dan sebagainya
* Satu laksa = sepuluh ribu
* Goro-goro = peristiwa yg menggemparkan; kegemparan; kerusuhan; keributan
* Danyang = hantu penjaga (rumah, pohon, dan sebagainya)
* Resi = petapa, orang suci.
* Loh jinawi = subur makmur berlimpah-limpah.
* Pendeta = orang pandai, pertapa, pemuka atau pemimpin agama atau jemaah, rohaniwan; guru agama.

***


Cover Belakang:


Syaikh Subakir dan Jin Jawa

Dahulu kala, tanah Jawa hanya dihuni para jin dan teman-temannya seperti kuntilanak, genderuwo, banaspati, dan lain-lain. Setiap manusia yang mendatangi tanah Jawa selalu mati. Maka tanah Jawa juga dikenal sebagai Hadramaut, seperti yang ada di negeri Yaman.

Sampai suatu ketika, Syaikh Subakir dari Negeri Rum (Turki) sanggup menaklukkan lelembut atau jin di tanah Jawa. Ketika itu, Syaikh Subakir menaruh jimat Rajah Aji Kalacakra di Gunung Tidar, Magelang.

Hingga kini, orang Jawa bisa hidup rukun berdampingan dengan jin. {}

{ Contoh ilustrasi cover belakang: Anak kecil dengan senangnya bermain Jailangkung tanpa ada rasa takut disaksikan para jin dan makhluk halus.}

{Contoh ilustrasi cover depan: Syaikh Subakir, dan makhluk halus yang kalang kabut}

{}

[Sekadar Catatan]
* Nabi Adam adalah kholifah pertama, merupakan manusia hibrida pertama. Kalau diruntut sejarah, Adam baru ada sekitar 6000 tahun yang lalu. Sedangkan 2.500.000 tahun silam di Pulau Jawa sudah ada manusia jenis lain. Kalau ingin melihat fosilnya ada di Museum Trinil-Ngawi-Jawa Timur.

* Mitos Syaikh Subakir ini juga menyangkut cerita/mitos Anwar dan Anwas yakni tentang manusia super jenius putra Syith bin Adam dibanding keturunan Adam yang lain. Anwar itu hasil blasteran/kawin-campur dengan putri dari iblis (Idajil/Malaikat Azazil) menurunkan para dewa. Sedangkan Anwas menurunkan manusia cerdas/fathonah, termasuk para nabi dan wali. Para dewa dan wali tersebut saat ini situsnya banyak tinggal di Pulau Jawa.

* Manusia Jawa (Nusantara) mengklaim dirinya paling cerdas melebihi kecerdasan bangsa Yahudi sekalipun. Kalau Yahudi dan Arab itu hanya garis dari Anwas. Sedangkan manusia Jawa (Nusantara) itu gabungan Anwar dan Anwas, juga blasteran dari homo erectus, manusia purba. Manusia Nusantara itu multitalenta, cerdas dan banyak bakat. Analogi kecerdasannya seperti perbandingan antara Ayam Ras (petelur-pedaging) dan Ayam Jawa/Kampung yang ada cipratan gen ayam hutan. Tentu berlipat-lipat lebih limpat-cerdas ayam jawa.

* Semoga tidak terkena skizofrenia. Semua ini hanya rangkaian mitos yang seolah-olah seperti nyata. Anda boleh tidak percaya karena Gunung Tidar itu bukan gunung berapi.

Meskipun almarhum KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Mad, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Muntilan yang menemukan situs makam Syaikh Subakir di Magelang. Rajah Aji Kalacakra pun masih efektif digunakan hingga saat ini untuk mengusir jin atau makhluk halus. Dalam paket wisata rohani atau ziaroh Walisongo, makam Syaikh Subakir di Gunung Tidar Magelang juga sering dijadikan agenda pelengkap ziaroh. {}

Diposkan oleh Ali Muttaqin Zahry pada hari Kamis, 29 Desember 2011 .::. >

Mencari Data di Blog Ini:

Memuat...

Jumlah Kunjungan Blog Ini: